pesan teakhir baden powell of gilwel

Baden-powellPandu-pandu sedunia yang tercinta! Sebelum akhir hayatku kian mendekat, tak ada salahnya aku berpesan kepada kalian sebagai tanda perpisahan dariku untuk selama-lamanya sebelum meninggalkan semuanya….

Ini merupakan pesanku yang terakhir, camkanlah baik-baik dalam hatimu. Cita-citaku sebagian sudah tercapai sehingga dapat dipetik hasilnya. Sebagian lagi yang belum tercapai mudah-mudahan oleh kalian bisa diteruskan sehingga bisa bermanfaat buat hidupmu.

Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Jika kalian meneliti alam sekeliling ciptaan Tuhan, niscaya akan menyadari bahwa sesungguhnya hidup ini penuh dengan keajaiban yang dapat menimbulkan kebaikan dan keindahan bagi kita. Lebih baik kita mengamati dan menikmati segala macam yang kita anggap baik dan indah daripada kita selalu mencari-cari hal yang jelek.

Keinginan tiada lain, berusahalah kalian agar kelak bila saatnya tiba untuk mengembuskan napas terakhir harus dalam keadaan bahagia dan puas. Oleh karena itu, selama hidup di dunia gunakanlah waktumu sebaik-baiknya. Berikhtiarlah terus dengan penuh optimistis untuk mencari kebahagiaan di atas dunia ini.

Itu semua sudah tercantum dalam pegangan hidup kita berupa Janji Pandu (Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka). Sekali kita mengucapkan Sumpah Setya, maka seumur hidup akan tetap seorang pandu.

Tuhan akan memberikan perlindunganNya bila kita senantiasa berusaha dengan niat suci dan ikhlas. Salam terakhir dari sahabatmu,

Add comment 27 Agustus 2009 almuhariez

morse

morse

morse code alphabet

Add comment 27 Agustus 2009 almuhariez

PP PESTA SIAGA

KEPUTUSAN

KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA

NOMOR : 131/KN/76

TAHUN 1976

TENTANG

PETUNJUK PENYELENGGARAAN PESTA SIAGA

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramukapramuka-1

Menimbang          : 1. Bahwa dalam rangka membina dan meningkatkan kekeluargaan, persaudaraan, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan para Pramuka Siaga, perlu diselenggarakan pesta siaga yang menarik sesuai dengan keperluan dan kepentingan anak/pemuda dewasa ini

2. Bahwa untuk penyelenggaraan pesta siaga tersebut perlu dikeluarkan Petunjuk Penyelenggaraan Pesta Siaga

Mengingat            : 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 238 Tahun 1961, juncto Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 12 Tahun 1971 tentang Anggaran Dasar Gerakan Pramuka

2. Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No.045/KN/74 tahun 1974 tentang Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka

3. Keputusan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka Tahun 1974, di Manado, Sulawesi Utara

4. Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No.130/KN/76 tentang Pertemuan Pramuka

Memperhatikan   : 1. Saran-saran Ketua Kwartir Nasional Harian/Sekretaris Jendral dan para Andalan Nasional Gerakan Pramuka

2. Saran-saran Andalan Nasional Gerakan Pramuka

MEMUTUSKAN :

Menetapkan         :

Pertama                : Petunjuk Penyelenggaraan Pesta Siaga, sebagaimana tercantum dalam lampiran surat keputusan ini

Kedua                    : Mengintruksikan kepada Kwarda dan Kwarcab untuk mendorong dan membantu para pembina pramuka untuk melaksanakan dengan pesta siaga

Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan

Ditetapkan di : Jakarta.

Pada tanggal :        Desember 1976

Ketua Nasional Gerakan Pramuka

Ketua

M. Sarbini

Letjen TNI

BAB I

PENDAHULUAN

Pt.1.     UMUM

  1. Untuk mencapai tujuan gerakan pramuka tersebut dalam AD dan ART pasal 4 maka perlu adanya usaha dan kegiatan untuk membangkitkan, mengatur, mendorong, mengarahkan, dan mengendalikan keinginan, semangat dan daya kemampuan anak-didik pramuka siaga
  2. Dalam pengarahan dan pengendalian keinginan, semangat dan daya kemampuan anak didik perlu ditanamkan, dipupuk dan dikembangkan
    1. Kesadaran beragama untuk taqwa dan cinta pada Tuhan Yang Maha Esa
    2. Kesadaran berkaidah untuk mengetahui dan menghayati apa yang baik (menguntungkan) dan apa yang tidak baik (merugikan) dalam hubungan antara sesama manusia, berdasarkan ideologi Pancasila
    3. Kesadaran sosial untuk memiliki rasa persahabatan/persaudaraan baik antar pramuka maupun antara pramuka dan masyarakat
    4. Kesadaran berbangsa dan bernegara untuk memiliki rasa cinta pada lam, bangsa dan negara Indonesia, serta mempertebal kepercayaan pada diri sendiri
  3. Dalam rangka pembangunan masyarakat dan pembangunan bangsa, maka penanaman dan pembinaan kesadaran tersebut dalam pt.1b. harus dimulai pada anak didik seumur pramuka siaga, sebagai tugas awal gerakan pramuka, untuk kemudian secara bertahap ditingkatkan menjadi kesadaran hukum, tertib masyarakat, kesadaran bermasyarakat dan berpemerintah melalui tingkatan penggalang, penegak dan pandega
  4. Tugas awal gerakan pramuka dalam rangka mendidik anak dan pemuda adalah menggali/membangkitkan prinsip-prinsip kemanusiaan, ciptaan Tuhan Yang Maha Adil yaitu antara lain :
    1. Kejujuran
    2. Keadilan
    3. Kerelaan berkorban
  5. Prinsip-prinsip kemanusiaan itu harus diperkuat dengan keberanian, kesabaran/ketabahan dan keuletan, untuk kemudian dikembangkan menjadi ketaatan/disiplin, rasa tanggung jawab dan kepemimpinan (leadership)
  6. Akhirnya setiap anak didikharus disiapkan untuk memiliki :
    1. Pengetahuan dan keterampilan untuk dapat melaksanakan segala tugas dalam kehidupan dan penghidupan masyarakat Indonesia
    2. Kekuatan lahir dan batin untuk mengatasi segala kesulitan dan tantangan dalam melaksanakan tugas tersebut
    3. Semangat untuk dapat menyelesaikan tugas itu, dengan sukses dan bermanfaat bagi pribadinya, masyarakat dan bangsa Indonesia
  7. Salah satu usaha dan kegiatan tersebut dalam pt.1a. adalah penyelenggaraan pesta siaga, sebagai suatu pertemuan pramuka, khusus untuk golongan siaga
  8. Dalam rangka membina dan meningkatkan kekeluargaan, persaudaraan, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan para pramuka siaga, perlu diselenggarakan pesta siaga, yang disesuaikan dengan keperluan, keadaan, keinginan, kepentingan, dan perkembangan :
    1. Anak didik pramuka siaga
    2. Masyarakat setempat

Pt.2.     MAKSUD DAN TUJUAN

  1. Maksud dari petunjuk penyelenggaraan ini adalah sebagai pedoman bagi kwartir dan satuan pramuka untuk menyelenggarakan pesta siaga yang berhasil-guna dan sebaik-baiknya
  2. Tujuannya adalah untuk mengatur dan memperlancar segala usaha dalam rangka pencapaian tujuan gerakan pramuka, seperti tercantum dalam anggaran dasar pasal 4

Pt.3.     RUANG LINGKUP

Petunjuk penyelenggaraan ini meliputi segala hal ihwal yang berhubungan dengan penyelenggaraan pesta siaga yaitu :

  1. Pengertian, sasaran dan fungsi pesta siaga
  2. Pola umum kegiatan dalam pesta siaga
  3. Perencanaan pengorganisasian dan tata laksana
  4. Dukungan administrasi
  5. Lain-lain

Pt.4.     DASAR

  1. AD, dan ART, gerakan pramuka
  2. Keputusan M.M.P.P. tahun 1970 di pandaan
  3. Keputusan MUNAS gerakan pramuka tahun 1974 di manado
  4. Surat keputusan KWARNAS gerakan pramuka no. 130/KN/76 tahun 1976, tentang petunjuk penyelenggaraan pertemuan pramuka

BAB II

PENGERTIAN, SASARAN DAN FUNGSI

PESTA SIAGA SERTA PEMISAHAN PESERTANYA

Pt.5.     PENGERTIAN

  1. Pesta siaga adalah pertemuan para pramuka siaga, yang berisi acara kegiatan bersama antara perindukan beberapa gugusdepan pramuka
  2. Pesta siaga merupakan kegiatan untuk siaga yang bentuk kegiatannya dipilih dan diselenggarakan sesuai dengan :
    1. Keadaan, kepentingan dan perkembangan anak didik
    2. Keadaan, kepentingan dan perkembangan masyarakat setempat

Pt.6.     SASARAN

Sasaran pesta siaga adalah membina dan mengembangkan kekeluargaan dan persaudaraan antar sesame pramuka siaga

Pt.7.     FUNGSI

Fungsi pesta siaga adalah

  1. Memberikan variasi kepada latihan berkala dari perindukan masing-masing
  2. Mengadakan tukar menukar pengalaman, pengetahuan dan kecakapan antar sesama pramuka siaga
  3. Membina hubungan baik antara gerakan pramuka dengan masyarakat

Pt.8.     PEMISAHAN

  1. Sesuai dengan perkembangan jasmani dan rokhani siaga, pesta siaga putera dan pesta siaga puteri, masing-masing diselenggarakan terpisah
  2. Mengingat beberapa sebab tertentu, dengan sepengetahuan dan tanggung jawab para Pembina pramuka dan majelis pembimbing yang bersangkutan, pesta siaga putera dan puteri dapat diselenggarakan bersama-sama

BAB III

POLA UMUM KEGIATAN DALAM PESTA SIAGA

Pt.9.     TINGKAT PENYELENGGARAAN

  1. Pesta siaga dapat diselenggarakan ditingkat :
    1. Desa yang diikiuti oleh beberapa perindukan siaga dalam desa yang bersangkutan
    2. Kecamatan yang diikuti oleh beberapa perindukan siaga dalam kecamatan yang bersangkutan
    3. Cabang yang diikuti oleh beberapa perindukan siaga dalam cabang yang bersangkutan
    4. Pesta siaga juga dapat diselenggarakan oleh beberapa desa, kecamatan dan/atau dan antar cabang yang bersangkutan
    5. Mengingat kesulitan yang akan banyak dihadapi, pesta siaga tidak diselenggarakan ditngkat daerah, atau ditngkat nasional, sehubungan dengan keadaan dan kemampuan wilayah dan anak didik setempat
    6. Pesta siaga pada dasarnya dapat diikuti oleh semua siaga dari semua perindukan dilingkungan tersebut
    7. Berdasarkan beberapa sebab tertentu (tempat, fasilitas, dan lain-lain) dalam penentuan peserta, penyelenggaraan dapat menentukan kebijakan tersendiri, sejauh mungin dihindari adanya persyaratan peserta atas dasar kejuaraan

Pt.10.  LANDASAN DAN BENTUK KEGIATAN

  1. Semua kegiatan dalam pesta siaga dilandasi jiwa pramuka seperti yang tersurat dan tersirat dalam satya dan dharma pramuka
  2. Pesta siaga merupakan satu-satunya pertemuan pramuka untuk golongan siaga
  3. Pesta siaga dapat berbentuk :
    1. Rekreasi,
    2. Permainan bersama,
    3. Darmawisata,
    4. Pasar siaga (bazar),
    5. Ketangkasan dan ketrampilan,
    6. Karnaval,
    7. Perkemahan siang hari (dagkamp),
    8. Pameran (exposisi),
    9. Pesta seni budaya dan
    10. Lain-lain

Pt.11.  SIFAT KEGIATAN

  1. Pesta siaga bukan perlombaan untuk mencari kejuaraan. Sesuai dengan perkembangan jasmani dan rokhani pramuka siaga, pesta siaga besifat :
    1. hiburan/rekreatif
    2. kreatif
    3. riang gembira dan
    4. banyak gerak
    5. Untuk memberi semangat dan gairah pramuka siaga, dengan tidak mengurangi semua sifat pesta siaga, sebagian acara kegiatannya dapat dilombakan

Pt.12.  PENGATURAN/PENYUSUNAN ACARA KEGIATAN

  1. Acara kegiatan dalam pesta siaga diatur dan disusun sesuai dengan :
    1. Bentuk pesta siaga antara lain :
      1. dalam karnaval ada lomba topeng, pameran pakaian lucu, sepeda hias, dan lain-lain
      2. dalam permainan bersama ada permainan ketangkasan, ketrampilan dan lain-lain
      3. dalam pentas seni budaya, dapat dilihatkan macam-macam kemampuan siaga, senitari, senisuara, senilukis, deklamasi, dan lain-lain
    2. Keadaan dan kemampuan setempat, misalnya :
      1. darmawisata kepantai, keluar kota melihat pemandangan, kekebun binatang, dan lain-lain
      2. meninjau tempat dan peninggalan besejarah, museum dan lain-lain
    3. Perkembangan jasmani dan rokani pramuka siaga, sehingga semua kegiatan itu tidak terlalu melemah, dan tidak mengambil alih kegiatan golongan pramuka lain
    4. Penyajian secara kegiatan dalam pesta siaga diatur dan disusun secara berencana, agar :
      1. Beraneka ragam (bervariasi), menarik, membangkitkan suasana riang gembira, membanggakan, memuaskan dan tidak menjemukan
      2. Menambah pengalaman, meningkatkan pengetahuan, kecakapan, kecerdasan, ketrampilan, kecerdasan, ketrampilan, ketangkasan dan ketajaman indera
      3. Menimbulkan rasa ikut serta, ikut berbuat dan ikut bertanggungjawab
      4. Memupuk rasa persaudaraan, menghargai orang lain, setia kawan, suka menolong dan ikut berusaha menciptakan persatuan dan kesatuan bangka serta perdamaian dunia
      5. Memupuk rasa kebanggaan nasional Indonesia
      6. Mempertebal kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa

Pt.13.  PEDOMAN PELAKSANAAN

  1. Kegiatan dalam pesta siaga harus mengandung pendidikan. Kegiatan itu meliputi segala segi kehidupan dan penghidupan manusia yang baik, sejalan dengan pedoman yang terdapat dalam syarat kecakapan umum (SKU) dan syarat kecakapan khusus (SKK). Selanjutnya pesta siaga supaya dikembangkan sesuai dengan keadaan dan kemampuan setempat, yang bersumber pada nilai-nilai :
    1. agama
    2. filsafat pancasila
    3. persahabatan dan persaudaraan
    4. perkembangan ekonomi dan teknologi
    5. perkembangan nasional
    6. seni budaya, olah raga, kesejahteraan keluarga, dan lingkungan
    7. keamanan dan ketertiban lingkungan dan
    8. lain-lain
    9. Semua kegiatan dalam pesta siaga dilaksanakan sedemikian rupa sehingga memberi kesempatan :
      1. belajar
      2. berlatih
      3. bekerja
      4. beribadat
      5. berbakti dalam suasana riang gembira
      6. Semua kegiatan pesta siaga dilaksanakan dengan :
        1. penerapan prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan, yang pelaksanaannya diserasikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan anak, masyarakat dan bangsa Indonesia
        2. banyak praktek secara praktis yang menyenangkan bagi siaga yaitu dengan :
          1. belajar sambil bekerja (learning by doing)
          2. membuat ceritera sebagai pembungkus kegiatan siaga
          3. membuat selingan dan menggiring kegiatan siaga dengan lagu-lagu gembira
          4. menyelenggarakan kegiatan dengan banyak gerak (dynamis) dan menghindari sejauh-jauhnya kegiatan melalui ceramah
          5. kegiatan sederhana, mudah dipahami, dan mudah dilaksanakan
    10. penggunaan sistem among, yang mengharuskan Pembina pramuka mempunyai sikap laku :
      1. ing ngarso sung tulada (di depan memberi teladan)
      2. ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat)
      3. tut wuri handayani (di belakang memberi daya)

dan yang pelaksanaannya untuk golongan siaga, dititik beratkan kepada “ing ngarso sung tulada”

BAB IV

PERENCANAAN, PENGORGANISASIAN

DAN TATA-LAKSANA

Pt.14.  PERENCANAAN

  1. Untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya, perlu dibentuk panitia penyelenggaraan pesta siaga yang wajib memikirkan, merencanakan, mempersiapkan, melaksanakan, dan menyelesaikan segala tugas yang dibebankan kepadanya dengan tertib dan penuh tanggungjawab
  2. Perencanaan secara masak yang disusun dengan seksama, dan terperinci, lengkap dan sistematis, meliputi :
    1. bentuk kegiatan pesta siaga
    2. tujuan dan maksud pesta siaga
    3. tempat dan waktu penyelenggaran
    4. susunan panitia penyelenggara (tugas struktur organisasi, personalia, pembagian kerja, dan lain-lain)
    5. tahap-tahap pelaksanaan kerja
    6. perincian acara kegiatan
    7. ketentuan mengenai peserta
    8. perlengkapan dan perbekalan
    9. rencana biaya
    10. penelitian, pengawasan dan penilaian dan
    11. lain-lain

Pt.15.  PENGORGANISASIAN

  1. Struktur organisasi panitia penyelenggaraan pesta siaga disusun secara seksama, terperinci, lengkap dan sistematis, sesuai dengan :
    1. acara, kegiatan, kepentingan, dan hubungan kerja masing-masing bagian
    2. tata tingkat/jenjang bagian-bagiannya
    3. rencana kegiatan, dengan mengingat daya guna dan tepat guna dari kerja panitia itu
    4. Pesta siaga harus diselenggarakan oleh semua pihak yang bersangkutan dengan penuh kesungguhan,tanggungjawab dan pengabdian secara sukarela, gotong-royong, akrab dan bersaudara, diserta usaha untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya
    5. Panitia penyelenggara dapat terdiri dari anggota dan bukan anggota gerakan pramuka
    6. Dalam penyelenggaraan pesta siaga digunakan tenaga penegak dan pandega sebagai anggota panitia penyelenggara untuk membantu para Pembina pramuka, supaya pengetahuan dan pengalaman mereka bertambah
    7. Pesta siaga diselenggarakan :
      1. antar gugusdepan yang berdekatan, tiga bulan sekali
      2. ditingkat kortan,atau antar desa yang berdekatan 6 bulan sekali
      3. ditingkat cabang atau antar kecamatan yang berdekatan setahun sekali
      4. antar ugusdepan yang berdekatan tetapi berlainan kecamatan maupun cabangnya, diatur oleh yang bersangkutan

Pt.16.  PEMBAGIAN KEWAJIBAN, WEWENANG DAN TANGGUNGJAWAB

  1. Penyelenggara pesta siaga merupakan kewajiban, wewenang dan tanggung jawab :
    1. pimpinan gudep untuk antar gudep
    2. kortan atas nama kwarcabnya untuk tingkat kecamatan
    3. kwarcab untuk tingkat cabang
    4. Pesta siaga tidak diselenggarakan ditingkat daerah atau nasional, tetapi kwarnas dan kwarda mempunyai kewajiban untuk memberi petunjuk, rangsangan, bimbingan dan saran serta menyebarluaskan semua pengalaman tentang penyelenggaraan pesta siaga kedaerah lainnya

Pt.17.  PENGAWASAN DAN PENILAIAN

  1. Pengawasan harus dilakukan oleh semua team yang ditunjuk oleh kwartir cabang atau koratan yang bersangkutan dengan tugas mengusahakan agar pesta siaga berlangsung dengan baik dan berakhir dengan hasil yang gemilang
  2. Penilaian ditugaskan kepada suatu team penilai. Data untuk penilaian didapat dari panitia penyelenggara dari peserta dan dari pihak-pihak lain yang bersangkutan atas penyelenggara pesta siaga itu sehingga hasilnya dapat obyektif

Pt.18.  LAPORAN

  1. Segera setelah pesta siaga selesai maka panitia penyelenggara harus menyerahkan suatu laporan tertulis, yang memberi gambaran tentang jalannya pesta siaga sejak dari tahap pemikiran sampai dengan tahap penyelesaiannya kepada kwartir cabang yang bersangkutan
  2. Dalam laporan pesta siaga tersebut harus dimuat antara lain :
    1. pemikirannya
    2. perencanaannya
    3. persiapannya
    4. pelaksanaannya
    5. penyelesaiannya
    6. panitianya
    7. peserta dan pengawasannya
    8. kesulitan hambatan dan usaha mengatasinya
    9. hasil kegiatan pesta siaga itu
    10. hasil penilaian atas penyelenggaraan dan kegiatannya
    11. pertanggungjawaban keuangan
    12. kesimpulan
    13. saran-saran untuk perbaikan kegiatan yang akan dating
    14. Laporan pesta siaga seperti yang dimaksud dalam pt.18a dan b diatas dikirim kepada :
      1. kortan dan kwartir cabangnya sebagai laporan pertanggungjawaban
      2. majelis pembimbing, instansi pemerintah, swasta dan masyarakat yang telah memberikan bantuan sebagai laporan pertanggungjawaban terutama atas penggunaan bantuannya
      3. kwartir nasional kwartir daerah, dan kwartir cabangnya bahan untuk disebar luaskan kedaerah lain, dalam rangka tukar menukar pengalaman dan informasi

BAB V

DUKUNGAN ADMINISTRASI

Pt.19.  UMUM

Untuk memperlancar segala usaha dan kegiatan dalam rangka penyelenggaraan pesta siaga, mutlak diperlukan adanya dukungan administrasi yang diselenggarakan dengan teliti/seksama, terperinci, lengkap, effisien dan efektif

Pt.20.  SUSUNAN PEMBINA PETUGAS

Susunan Pembina/petugas tiap panitia pesta siaga harus memenuhi kebutuhan pesta siaga, baik kwalitatif maupun kwantitatif.

Pt.21.  DUKUNGAN LOGISTIK

Kelengkapan dan perbekalan pesta siaga terdiri dari antara lain :

  1. kelengkapan pribadi
  2. kelengkapan kesatuan
  3. kelengkapan tempat/arena pesta siaga
  4. kelengkapan acara kegiatan pesta siaga dan
  5. alat-alat dan bahan-bahan untuk makan/konsumsi

Pt.22.  PEMBIAYAAN PESTA SIAGA

  1. Biaya penyelenggaraan pesta siaga dilakukan atas dasar swadaya dan gotong-royong, yaitu dipikul bersama oleh mereka yang bersangkutan dan berkepentingan terdiri atas unsur-unsur :
    1. para peserta pesta siaga, beserta orang tua atau walinya
    2. gugusdepan dan majelis pembimbing gugusdepannya
    3. majelis pembimbing desanya
    4. kortan dan majelis pembimbing kecamatannya
    5. panitia penyelenggara yang mengusahakan sumber dana lainnya yang tidak mengikat, baik dari pihak pemerintah swasta maupun masyarakat sendiri
    6. Segala pemasukan dan pengeluaran uangpramuka-1 untuk pembiayaan pesta siaga dimuat dalam laporan pertanggung jawaban secara terbuka yang disampaikan kepada semua pihak yang bersangkutan

Pt.23.  Hal-hal lain mengenai Pesta Siaga yang belum diatur dalam petunjuk penyelenggaraan ini, akan diatur lebih lanjut oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal : 31 Desember 1976

Kwartir Nasional Gerakan Pramuka

Ketua

M. Sarbini

Letjen – TNI

Add comment 27 Agustus 2009 almuhariez

sebuah referensi tentang PILPRES 2009

pemilu2009

ini merupakan sebuah referensi bagi kita semua dibalik PILPRES RI 2009. mungkin yang saya tulis ini benar, tapi mungkin juga salah. karena semua yang ada di dunia ini adalah ALLAH SWT yang mengaturna, kita sebagai makhluk hanya bisa berdoa dan berusaha. hal-hal tersebut antara lain adalah sebagi berikut :

1. Pasangan Mega – Prabowo.

# “TUNGGAK SEMI” => TUMBUHNYA TUNAS.

meskipun sudah patah tetapi meiliki sebuah kekuatan untuk tumbuh / bangkit dari keterpurukan. Tetapi biasanya tumbuhnya tunas terjadi pada musim penhujan dan apa bila pada musim kemarau seperti sekarang hal tersebut belum akan terjadi. Harus menunggu waktu hingga datangnya musim penghujan, dalam artian bahwa pasangan ini masih belum mendapatkan kekuatan untuk mejadi seorang pemimpin bangsa ini. Tapi mungkin di lain periode hal ini bisa terwujud

# “KEBO MATI ILANG PERBAWANE” => KERBAU (BANTENG) YANG SUDAH MATI TIDAK MEMILIKI HARGA.

2. pasangan SBY – Boediono

# “SUMUR TINOBO” => SUMUR YANG SERING DIKUNJUNGI

pada musim kemarau seperti pada saat sekarang ini, sumur merupakan sebuah alternatif pilihan yang cocok untuk mendapatkan air. Dan sumur ini akan ramai dikunjungi orang-orang yang begitu membutuhkan air. Sumur ini juga merupakan pilihan bagi tunas untuk tumbuh dan merupakan sumber air selain sungai. Dalam artian bahwa pasangan ini akan menjadi tauladan bagi 2 pasangan yang lain.

# “ENAK DIGENDONG” => ENAK YANG DIGENDONG

3. pasangan JK – Wiranto

# “WASESA SEGORO” => KEKUATAN AIR LAUT

Air laut memiliki kekuatan yang luar biasa apabila terkumpul di samudra. Kekuatan tersebut berasal dari sungai-sungai yang terkumpul jadi satu. Tapi pada musim kemarau air sungai kering dan ainya tidak sampai ke laut. Dalam artian bahwa kekuatan itu tidak sampai ke laut (dalam hal ini adal pasangan JK -Wir). Kekuatan ini akan terkumpul apabila sungai mengalirkan air dan hal tersebut akan terjadi pada musim penghujan, bukan pada musim kaemarau seperti sekarang. Dalam artian bahwa dukungan pada pasangan ini belum mencapai maksimal karena airnya sudah kering disungai. Mungkin pada musim penghujan yang akan datang pasangan ini memiliki kekuatan untuk mencapai kursi presiden dan wapres.

# “JUSUF KALA WERANG TO” => JUSUF KALA MALU KAN!”

DARI BERBAGAI UARAIAN DIATAS BISA KITA TARIK KESIMPULAN BAHWA PASANGAN SBY – BOEDIONO LAH YANG AKAN UNGGUL PADA PILPRES MENDATANG.

YANG SAYA URAIKAN DIATAS BUKAN KARENA SAYA MEMIHAK KEPADA SALAH SATU PASANGAN, TETAPI ADALAH INFORMASI YANG SAYA PEROLEH DARI PINISEPUH YANG MUMPUNI DAN DARI AYAH SAYA YANG JUGA MERUPAKAN ORANG YANG SANGAT SAYA BANGGAKAN DAN BELIAU JUGA MERUPAKAN ORANG YANG MEMPUNYAI KOMPETENSI UNTUK HAL-HAL SEPERTI DI ATAS.

MOHON MAAF APABILA MENYINGGUNG BEBERAPA PIHAK, TAPI HAL INI MARILAH KITA JADIKAN SEBUAH REFERENSI DAN JANGAN SAMPAI MEMP[ENGARUHI PILIHAN ANDA. KARENA SEMUA AKAN KEMBALI KEPADA ALLAH SWT.

SALAM MAHASISWA !!!

1 comment 10 Juli 2009 almuhariez

inuyasha

inuyasha

Add comment 9 Juni 2009 almuhariez

peran mahasiswa sebagai AGENT OF CHANGE

Meneruskan sebelumnya, kita sudah tahu tentang hakikat mahasiwa dan sekarang kita akan mengkaji peran mahasiswa sebagai AGENT OF CHANGE.
Saya mulai dengan kata mahasiswa. Mahasiswa dipilih sebagai pelaku karena memiliki potensi yang besar sebagai agen perubahan. Mahasiswa saya definisikan di sini sebagai segmen pemuda yang tercerahkan karena memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Di sini saya tidak membicarakan mahasiswa sebagai orang yang faham teknologi, atau faham ilmu-ilmu sosial, namun saya mengartikan mahasiswa sebagai orang yang memiliki kemampuan logis dalam berfikir sehingga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Sebagai bagian dari pemuda, mahasiswa juga memiliki karakter positif lainnya, antara lain idealis dan energik. Idealis berarti (seharusnya) mahasiswa masih belum terkotori oleh kepentingan pribadi, juga belum terbebani oleh beban sejarah atau beban posisi. Artinya mahasiswa masih bebas menempatkan diri pada posisi yang dia anggap terbaik, tanpa adanya resistansi yang terlalu besar. Mahasiswa seharusnya berada diposisi netral yang tanpa ada embel-embel yang lain. Tetap berperan dengan idealisme dan independennya. Tanpa memihak kecuali kepada kebenaran.

Dengan potensi seperti di atas, wajar jika pada setiap zaman kemudian pemuda memegang peran penting dalam perubahan kaumnya. Kita lihat kisah Ibrahim as sang pembaharu, atau kisah pemuda Kahfi (18:9-26) yang masing-masing begitu sigap menerima kebenaran. Atau orang-orang yang segera menerima dan mendukung Rasulullah saw pun ternyata adalah para pemuda, bukan orang-orang tua yang saat itu menjadi pemuka kaumnya. Bukan Abu Jahal atau Abu Sufyan, tetapi Umar bin Khathab, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah lah yang kemudian mengusung panji-panji Islam. Bahkan Abu Bakar – yang cukup tua pun – saat itu baru berusia 37 tahun.

Ada ulama yang kemudian menyampaikan bahwa pemuda dapat memiliki tiga peran, yaitu:

1. Sebagai generasi penerus (AthThur:21); meneruskan nilai-nilai kebaikan yang ada pada suatu kaum.
2. Sebagai generasi pengganti (Al Maidah:54); menggantikan kaum yang memang sudah rusak dengan karakter mencintai dan dicintai Allah, lemah lembut kepada kaum mu’min, tegas kepada kaum kafir, dan tidak takut celaan orang yang mencela.
3. Sebagai generasi pembaharu (Maryam:42); memperbaiki dan memperbaharui kerusakan yang ada pada suatu kaum.

Kata kunci yang kedua adalah Islam. Islam adalah sebuah ideologi yang memberikan energi besar bagi perubahan. Hal ini dimungkinkan karena karakter Islam yang syumul, mewarnai seluruh aspek kehidupan dan mengatur seluruh bagian manusia. Islam tidak hanya sekedar mewarnai pola pikir, namun dia juga mempengaruhi emosi, perasaan, pemikiran dan juga fisik. Berislamnya seseorang akan melahirkan sebuah totalitas. Dengan adanya syahadah, seorang muslim akan meyakini bahwa dia memang diciptakan hanya untuk beribadah, bahwa tidak ada yang dapat memberikan kemudharatan kecuali atas izin Allah, sehingga dengan demikian tidak ada lagi sesuatupun yang ditakutinya. Kalaupun harus berperang, dia meyakini bahwa apapun hasilnya akan berupa kebaikan. Matinya adalah syahid, dan hidupnya adalah kemuliaan.

Dengan demikian gabungan kata mahasiswa dan Islam memberikan sebuah energi besar yang berlipat, yang apabila diarahkan dengan baik dapat memberikan sebuah perubahan.

Berbicara tentang perubahan, tentunya akan memunculkan pertanyaan mengapa harus ada perubahan. Di sini ada beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai jawaban:

1. Kondisi saat ini sangat jauh dari ideal. Tidak perlu kita pungkiri bahwa masyarakat (termasuk atau terutama di Indonesia) saat ini masih cukup jauh dari Islam. Contoh yang jelas tampak di permukaan adalah pada moral masyarakat, misalnya korupsi yang membudaya atau adanya pergaulan bebas. Oleh karena itu tidak salah jika ada ulama yang mengatakan kondisi sekarang sebagai jahiliyah modern.
2. Perubahan adalah suatu keniscayaan, atau sunnatullah. Artinya suka atau tidak, kita akan menemui perubahan. Kalaupun kita diam, maka ada banyak pemikiran lain (komunis, liberal, dll) yang mencoba mengubah masyarakat sesuai dengan kehendak mereka. Oleh karena itu, diamnya kita berarti membiarkan ‘kekalahan’ ideologi yang kita yakini kebenarannya dan membiarkan terjadinya perubahan ke arah yang tidak kita kehendaki. Dalam Ar Ra’d:11, Allah berfirman bahwa Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum hingga mereka mengubah kondisi dirinya sendiri.
3. Melakukan perubahan adalah perintah di dalam ajaran Islam, sebagaimana dalam suatu hadits Rasulullah saw menyatakan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung, orang yang hari ini sama dengan kemarin berarti rugi, dan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah celaka. Artinya kalau kita membiarkan kondisi statis tanpa perubahan – apalagi membiarkan perubahan ke arah yang lebih buruk – berarti kita tidak termasuk orang yang beruntung. Juga di dalam Ali Imran:104 Allah memerintahkan agar ada kaum yang menyeru kepada kebaikan – sebagai sebuah perubahan.

Pertanyaan berikutnya yang mungkin muncul adalah mengapa harus saya yang melakukan perubahan, dan bukan orang lain. Secara sederhana jawabannya adalah karena kita adalah orang-orang terpilih. :) Dari sekitar 5 milyar penduduk bumi, hanya 1 milyar yang memeluk Islam, suatu segmen yang tidak terlalu besar. Dari sekian banyak pemeluk Islam, mungkin hanya sekitar 5 % yang menjadi mahasiswa. Berarti kita (baca: mahasiswa muslim) merupakan sebuah segmen yang sangat kecil. Dan dari sekian mahasiswa muslim, hanya puluhan atau mungkin ratusan yang tertarik mengikuti kajian, atau membaca tulisan bertemakan peran mahasiswa Islam sebagai agen perubahan. Orang-orang yang sedikit ini seharusnya tidak kemudian lepas tangan, yang artinya membiarkan perubahan berjalan ke arah yang tidak kita kehendaki. Dengan kata lain, kita telah sadar akan potensi yang kita miliki; dan setiap potensi bermakna adanya tanggung jawab. Makin besar potensi yang dimiliki seseorang, makin besar pula tanggung jawab yang dimilikinya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim, Rasulullah juga mengingatkan kita untuk mempergunakan lima kesempatan, yang di antaranya adalah masa muda sebelum datangnya tua.

Kesadaran bahwa kita ‘harus’ menjadi agen perubahan merupakan langkah awal yang kemudian harus dibarengi dengan pemahaman bagaimana cara melakukan perubahan atau ke arah mana perubahan itu kita arahkan. Di dalam surat Ali Imran:104 yang disebutkan di atas, Allah menyebutkan bahwa perubahan itu harus dilakukan ke arah “kebaikan”. Dalam tataran praktis, tentu kita harus mem-break down tujuan global itu ke dalam sasaran-sasaran jangka pendek, jangka menengah hingga jangka panjang. Arah kebaikan yang dimaksud adalah Islam dan tauhid, sehingga sebagai tujuan jangka panjang adalah terbentuknya masyarakat dan pemerintahan yang Islami yang lingkupnya tidak hanya Indonesia namun dunia. Sebagai sasaran antara, bisa saja kita memikirkan perubahan kepemimpinan nasional, penggolan agenda reformasi, dst. Tentu dalam menyusun agenda jangka pendek kita perlu memikirkan secara lebih detil, disesuaikan dengan kondisi yang ada dan kondisi ideal yang kita inginkan.

Dalam ilmu sosiologis disebutkan ada dua pandangan tentang perubahan, yaitu pandangan materialistik yang meyakini bahwa tatanan masyarakat sangat ditentukan oleh teknologi atau benda. Misalnya Marx yang menyatakan bahwa kincir angin menimbulkan masyarakat feodal; mesin uap menimbulkan masyarakat kapitalis-industri. Atau mungkin sekarang kita bisa mengatakan internet menimbulkan masyarakat informasi, dst. Sedang pandangan kedua adalah pandangan idealistik yang menekankan peranan ide, ideologi atau nilai sebagai faktor yang mempengaruhi perubahan. Dalam kaitannya dengan perbincangan kita, pandangan kedua inilah yang lebih mengena, di mana sasaran perubahan kita adalah manusia dan ideologi yang kita bawa adalah Islam.

Juga disebutkan bahwa ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan untuk melakukan perubahan. Yang pertama dengan mengubah individu sehingga kemudian akan mempengaruhi tatanan sosial, kelompok atau organisasi. Yang kedua dengan mengubah kelompok, sehingga perubahan suasana dalam kelompok akan mempengaruhi individu (sebagai contoh orang yang sehari-harinya biasa saja, di dalam acara daurah pun akan terimbas untuk ikut melakukan amal-amal kebaikan, seperti mengaji, dll). Yang ketiga adalah menekankan pada perubahan struktur sosial yang kemudian akan menyebar ke seluruh bagian masyarakat. Kita bisa dan perlu melakukan ketiganya secara simultan, hanya saja perlu ditekankan bahwa perubahan yang langgeng adalah yang berasal dari pemahaman individu.

Ada beberapa aplikasi praktis atau tahapan yang perlu dilakukan dalam mengarahkan perubahan di dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut:

* Perbaikan individu, yaitu perbaikan diri.

Dalam hal ini kita perlu menjawab pertanyaan, kita ada di mana dan mau ke mana, sehingga dapat dilakukan perbaikan (perubahan ke arah yang lebih baik). Tentu perbaikan diri di sini menyeluruh, baik (terutama) aspek agama, (kemampuan) akademis, (kemampuan) sosial, dll.
* Pembentukan lingkungan, perbaikan kaum, perbaikan umat.

Ini adalah tahapan berikutnya. Perlu diingat juga Ar Ra’d:11 dan Al Anfal:53
* Penyebaran wacana dan opini.

Dalam masyarakat luas, yang sulit untuk dilakukan pembinaan intensif yang melahirkan pemahaman, minimal perlu dilakukan penyebaran wacana dan opini. Perlu diingat bahwa pelaku penyebaran wacana dan opini perlu memiliki kredibilitas moral (masyarakat tidak akan mempercayai orang yang cacat moral) dan kredibilitas intelektual (baik lahir dari pendidikan maupun pengalaman).
Juga perlu diingat bahwa selain menyebarkan wacana normatif, kita perlu juga memberikan solusi aplikatif untuk menjawab permasalahan umat. Sekedar slogan “Islam adalah solusi” mungkin baik untuk langkah awal. Namun berhenti di situ hanya akan menyebabkan masyarakat apatis, sehingga perlu dilanjutkan dengan bagaimana cara Islam menjadi solusi. Dalam penelitian yang dilakukan di Turki disebutkan bahwa di masa represif Islam mampu bertahan karena kemampuannya untuk muncul dalam hal normatif yang tidak terlalu berbenturan dengan penguasa, namun di masa liberal justru Islam terkalahkan oleh gerakan kiri, karena gagal membumikan aspek normatif tadi ke dalam masalah praktis. Seharusnya gerakan Islam di Indonesia belajar dari hal ini.
* Penanaman motivasi pada masyarakat.

Motivasi akan melahirkan sebuah gerakan sehinga siapa yang berbicara sebuah perubahan akan membicarakan juga cara menanamkan motivasi. Sebagai catatan, motivasi ’semu’ cukup mudah diberikan, seperti dalam demonstrasi di mana peserta demonstrasi akan mengikuti perintah danlap karena larut dalam massa, atau motivasi yang muncul karena perintah dari penguasa. Namun motivasi ini akan lenyap begitu faktor luar yang menimbulkannya hilang. Dengan demikian pemberian motivasi yang terbaik adalah memunculkan motivasi internal, yang hanya mungkin muncul dengan adanya pemahaman. Pemahaman bahwa ideologi Islam adalah yang terbaik dan perlu diperjuangkan.
Penanaman motivasi ini menjadi makin penting kalau kita mengingat pendapat saintis (Thuman and Bennet) yang mengatakan bahwa faktor utama kepunahan sebuah peradaban (misal: peradaban Maya, peradaban Islam) adalah hilangnya kepercayaan diri, motivasi dan semangat untuk bertahan.
* Melakukan mobilitas vertikal dan network antar bidang.

Langkah di atas kebanyakan adalah perbaikan internal masyarakat Islam. Agar peradaban Islam kemudian mengemuka di antara peradaban lainnya, kita juga perlu melakukan mobilitas vertikal, atau memfungsikan seluruh potensi kita sebaik-baiknya – dalam term Islam disebut ihsan, dan menjalin network, yang dalam term Islam disebut dengan amal jama’i (61:4). Dengan demikian Islam akan mempengaruhi tidak hanya orang-orang yang telah tercerahkan dengan Islam (baca: muslim), namun juga orang-orang yang masih berada di luar Islam.

Satu catatan lain, bahwa adalah sebuah sunnatullah untuk melakukan perubahan secara bertahap (tadarruj), seperti halnya penciptaan manusia yang bertahap. Penerapan aturan Islam secara drastis oleh sebuah pemerintah – misalnya – tanpa mempersiapkan masyarakatnya lebih dahulu, hanya akan menimbulkan penolakan spontan. Dalam hal ini patut diingat ucapan Umar bin Abdul Aziz yang mengatakan, “Jangan engkau tergesa-gesa wahai anakku, sesungguhnya Allah pernah mencela khamr dalam Al Qur’an dua kali dan mengharamkannya pada kali yang ketiga. Aku khawatir jika membawa kebenaran ini kepada manusia secara spontan, maka mereka pun menolaknya secara spontan pula, sehingga dari sinilah akan muncul fitnah.”
Tentu dalam hal lain juga kita sadari bahwa di sisi lain pemahaman yang benar akan Islam, akan menimbulkan perubahan revolusioner dalam diri seseorang, seperti kondisi para shahabat yang begitu sigap dalam menerima perintah Allah dan Rasul-Nya.

Terakhir ada dua kata kunci yang perlu diingat dalam melakukan perubahan ini, yang pertama adalah pembinaan (tarbiyah) sehingga akan memberikan pemahaman dan motivasi yang langgeng. Musthafa Masyhur pernah berkata, “Tarbiyah bukan segalanya, tapi segalanya tidak ada tanpa tarbiyah.” Dan yang kedua adalah kerja keras dengan beramal, karena Allah hanya menilai amal dan usaha kita bukan hasil dari usaha kita.

1 comment 17 April 2009 almuhariez

HAKIKAT MAHASISWA

Hakikat kita sebagai mahasiswa

Mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang sedang menekuni bidang ilmu tertentu dalam lembaga pendidikan formal dan menekuni berbagai bidang tersebut di suatu tempat yang di namakan universitas. Kelompok ini sering juga disebut sebagai “Golongan intelektual muda” yang penuh bakat dan potensi. Disamping itu mahasiswa juga semestinya mempunyai perilaku yang patut menjadi teladan para adik – adiknya yang masih duduk di bangku sekolah. Namun posisi yang demikian ini sudah barang tentu bersifat sementara karena kelak di kemudian hari mereka tidak lagi mahasiswa dan mereka justru menjadi pelaku-pelaku intim dalam kehidupan suatu negara atau masyarakat.

Namun yang menjadi pembahasannya sekarang adalah Hakikat kita sebagai mahasiswa yang semestinya mempunyai bakat dan potensi untuk membangun Bangsa dan Negara ini. Dalam hal makna, arti mahasiswa bukanlah posisi strata pendidikan yang dilakukan setelah lulus SMA. Namun ketika menginginkan makna ini agar jelas ada empat peran yang dimiliki mahasiswa yakni sebagai agen perubahan (AGEN OF CHANGE), kekuatan moral, kontrol sosial, dan cadangan potensial.

Sebagai agen perubahan (AGEN OF CHANGE), mahasiswa dituntut bersifat kritis. Diperlukan implementasi yang nyata. Contoh konkrit implementasi tersebut adalah perjuangan mahasiswa di tahun 1998 dalam mengumandangkan reformasi. Perubahan yang terjadi sebagai efek dari perjuangan mahasiswa masa itu sangatlah besar baik bagi kinerja pemerintahan, control kerja pemerintahan, kondisi perekonomian bangsa, sistem pendidikan yang diterapkan, serta hal-hal lain yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Harapan besar ditujukan pada para pemuda. Pemuda yang dimaksud adalah para mahasiswa. Dalam posisi ini, mahasiswa adalah aset yang sangat berharga. Harapan tinggi suatu bangsa terhadap mahasiswa adalah menjadi generasi penerus yang memiliki loyalitas tinggi terhadap kemajuan bangsa.

Sebagai kekuatan moral, masyarakat akan memandang tingkah laku, perkataan, cara berpakaian, cara bersikap, dan sebagainya yang berhubungan dengan moral sebagai acuan dasar mereka dalam berperilaku. Disinilah mahasiswa harus di tuntut ke intelektualannya dalam kekuatan moralnya di masyarakat.

Sebagai kontrol sosial, Masyarakat adalah sekumpulan populasi dengan beragam karakter. Banyak sekali aspek sosial yang harus dipenuhi agar tidak terjadi ketimpangan yang rentan memicu konflik. Jika kondisinya berlawanan, maka dapat dipastikan adanya konflik kecil yang bisa timbul di mahasiswa maupun masyarakat. Di sinilah peran mahasiswa. Kontrol dari kondisi – kondisi sosial merupakan implementasi nyata mahasiswa untuk bersinggungan langsung dengan masyarakat. Memanfaatkan media sangat atraktif bila diterapkan. Jika menyadari peran dalam masyarakat sewajarnya mahasiswa menjadi harapan masyarakat dan bukan sekadar penganut hedonistik.

Sebagai cadangan potensial, sebagaimana pengertian mahasiswa sendiri yang berarti suatu kelompok yang sedang menekuni bidang ilmu tertentu. Disinilah kesadaran para mahasiswa yang harus ditekankan, bahwa sebagai mahasiswa yang nantinya akan mempunyai suatu keahlian dalam bidang – bidang ilmu tertentu harus wajib mengamalkannya dalam masyarakat luas. Ini semua semata – mata untuk kemajuan Bangsa dan Negaranya sendiri. Dan disinilah tingkat Nasionalisme seorang “lulusan” mahasiswa akan di pertanyakan. Karena banyak “lulusan – lulusan “ mahasiswa Indonesia melupakan Bangsa dan Negaranya sendiri, karena mereka sudah dilupakan oleh uang dan jabatan yang mereka dapat di Bangsa dan Negara lain. Seharusnya kita (mahasiswa) menjadi cadangan potensial untuk memajukan Bangsa dan Negara kita, dan menjadi titik terang untuk keluar dari krisis – krisis yang berkepanjangan ini.

Semoga kita sadar akan Hakikat kita sebagai mahasiswa, dan menjadi titik terang untuk kemajuan dan kebangkitan Indonesia.

1 comment 17 April 2009 almuhariez

Darah Juang

Darah Juang

Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Negeri kami subur Tuhan
Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Tuk membebaskan rakyat
Padamu kami berbakti
Padamu kami mengabdi

Add comment 15 Januari 2009 almuhariez

bivak / bivoack

Membuat Bivak


Bivak tempat berteduh dan bermalam di belantara. Sepintas lalu memang terkesan seadanya. Membuat tempat perlindungan jadi penting ketika terjadi hal-hal darurat. Padahal, bivak tak hanya dibuat ketika darurat saja, tetapi juga dipakai pada saat membuat camp sementara. Faktor kenyamanan juga turut berbicara di sini. Pastinya, membuat bivak tidak ada bedanya dengan kita membuat rumah dalam kehidupan sehari-hari. Dan jangan lupa, sering-sering berguru pada masyarakat lokal dan suku-suku di pedalaman.

Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan ketika kita memutuskan untuk membuat bivak, yaitu jangan sekali-kali membuat bivak pada daerah yang berpotensi banjir pada waktu hujan. Di atas bivak hendaknya tak ada pohon atau cabang yang mati atau busuk. Ini bisa berbahaya kalau runtuh. Juga jangan di bawah pohon kelapa karena jatuhnya kelapa bisa saja terjadi tiba-tiba.

Di daerah tempat kita akan mendirikan bivak hendaknya bukan merupakan sarang nyamuk atau serangga lainnya. Kita juga perlu perhatikan bahan pembuat bivak. Usahakan bivak terbuat dari bahan yang kuat dan pembuatannya baik, sebab semuanya akan menentukan kenyamanan.
Menurut N.S. Adiyuwono, seorang penggiat alam terbuka, bahan dasar untuk membuat bivak bisa bermacam-macam. Ada yang dibuat dari ponco (jas hujan plastik), lembaran kain plastik atau memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti daun-daunan, ijuk, rumbia, daun palem, dan lainnya. Tapi yang paling penting, kesemua bahan dasar tadi sanggup bertahan ketika menghadapi serangan angin, hujan atau panas.
Selain bahan yang bermacam-macam, bentuk bivak pun amat beragam. Semuanya disesuaikan dengan kebutuhan. Tak harus berbentuk kerucut atau kubus, modelnya bisa apa saja. Ini amat bergantung pada kreativitas kita sendiri. Membuat bivak merupakan seni tersendiri karena kreasi dan seni seseorang bisa dicurahkan pada hasilnya.

Sebagai contoh, one man bivak. Pembuatannya dengan menancapkan kayu cagak sebagai tiang pokok yang tingginya sekitar 1,5 meter. Letakkan di atasnya sebatang kayu yang panjangnya kira-kira dua meter. Ujungnya diikat kuat yang biasanya memakai patok. Lalu sandarkan potongan kayu yang lebih kecil di atasnya, yang berfungsi untuk menahan dedaunan yang akan jadi atap ”rumah” kita.

Bentuk lain dari alam yang bisa dimanfaatkan sebagai bivak yaitu gua, lekukan tebing atau batu yang cukup dalam, lubang-lubang dalam tanah dan sebagainya. Apabila memilih gua, Adiyuwono mewanti-wanti agar kita bisa memastikan tempat ini bukan persembunyian satwa. Gua yang akan ditinggali juga tak boleh mengandung racun. Cara klasik untuk mengetahui ada tidaknya racun adalah dengan memakai obor. Kalau obor tetap menyala dalam gua tadi artinya tak ada racun atau gas berbahaya di sekitarnya.

Kita juga bisa memanfaatkan tanah berlubang atau tanah yang rendah sebagai tempat berlindung. Tanah yang berlubang ini biasanya bekas lubang perlindungan untuk pertahanan, bekas penggalian tanah liat dan lainnya. Pastikan tempat-tempat tersebut tidak langsung menghadap arah angin. Kalau terpaksa menghadap angin bertiup kita bisa membuat dinding pembatas dari bahan-bahan alami. Selain menahan angin, dinding ini bertugas untuk menahan angin untuk tidak meniup api unggun yang dibuat di muka pintu masuk.

Add comment 4 November 2008 almuhariez

DASADARMA PRAMUKA

Dasadarma
Pramuka itu :
  1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
  3. Patriot yang sopan dan kesatria
  4. Patuh dan suka berMusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. Rajin, terampil, dan gembira
  7. Hemat, cermat, dan bersahaja
  8. Disiplin, berani, dan setia
  9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya
  10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

oleh : K’ Muhariez Purwo Santoso

1 comment 4 November 2008 almuhariez

Tulisan-tulisan Sebelumnya

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Desember 2009
S S R K J S M
« Agu    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031